Aaaaa super excited kembali menjadi anak pulau dan pedalaman! Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu berkesempatan untuk melakukan research dan survei langsung di sebuah desa di Sumbawa untuk keperluan melengkapi data untuk project sosial. Lebih menariknya lagi walaupun ini Sumbawa, desa tempat aku tinggal tidak berlokasi di wilayah yang dekat dengan pantai, melainkan berada di wilayah pegunungan. Yap, it's Desa Tepal! Sebuah desa di Kecamatan Batu Lanteh, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang terletak di ketinggian 847 meter di atas permukaan laut. Desa yang terletak di wilayah pegunungan ini berjarak 67 kilometer sebelah selatan pusat pemerintahan Kabupaten Sumbawa. Lumayan jauhhh kannn dari perkotaan? But it's all worth it! Here's the story.

Perjalanan kali ini cukup melelahkan, karena untuk keberangkatan full perjalanan darat plus beberapa kali transit dan ganti transportasi. Bersama 2 tim lainnya, kami start dari Jakarta-Surabaya menggunakan kereta, dilanjut naik kapal dari Surabaya-Lombok, Bus dari Praya Lombok - Pelabuhan Kayangan, Kapal dari Pelabuhan Kayangan - Sumbawa, and last dari pusat kota Sumbawa menuju Desa Tepal menggunakan motor dengan total perjalanan sekitar 2 jam lebih. Exhausted sekali bukan? hahaha.
Saat sampai di Lombok tengah malam, kami disambut hangat oleh rekan kami. Senang rasanya bisa rehat sejenak di rumahnya, walaupun hanya beberapa jam tapi untuk perjalanan panjang seperti ini sangat berarti hehe. Paginya kami langsung melanjutkan perjalanan menggunakan bus ke Pelabuhan Kayangan di lanjut kapal ke Sumbawa. Sepanjang perjalanan we saw pemandangan yang luar biasa indahnya! Gradasi air laut yang menakjubkan dan pegunungan cantik.
Sesampainya di Sumbawa kami langsung disambut hangat oleh rekan kami, mereka warga lokal yang akan membantu kami dalam proses persiapan
project hingga pelaksanaanya.
So lucky selalu dipertemukan dengan orang-orang baik di setiap perjalanan.
First things first, ya wajib nyoba kuliner khas Sumbawa. Nah, kali ini kami nyoba singang dan sepat.
Super yummy! Sangat mengganjal perut sebelum melanjutkan perjalanan ke Desa Tepal.

Perjalanan ke Desa Tepal kita tempuh malam hari, tepuk salut untuk rekan kami yang super duper merepresentasikan ketangguhan warga lokal. Menempuh perjalanan malam dengan motor, jalannya berbelok plus banyak tikungan tajam, pencahayaan kurang dan suhu semakin dekat dengan desa semakin dingin. Tapi mereka berhasil membawa kami dengan selamat sampai desa. Sesampainya disana, kami langsung menuju rumah kepala desa setempat. FYI, setiap rumah disini pasti punya tungku api di dapur. Sebelum istirahat, kami menghangatkan tubuh sejenak.
Keesokan harinya dan beberapa hari kedepan, kami mulai mencari data-data yang dibutuhkan untuk keperluan project sosial untuk awal tahun depan. Start dari sekolah, puskesmas, organisasi pemuda setempat dan stake holder lainnya. Feel so sad, saat mendengar bahwa di Desa Tepal ini belum ada dokter, hanya ada 1 perawat dan 1 bidan saja di Puskesmas.
FYI, masyarakat disini sangat menggantungkan kehidupan mereka pada hasil kopi. Tumbuhan kopi di Desa Tepal sangat melimpah, hampir di setiap rumah ada kopi yang sedang dibersihkan atau dijemur. Kopi ini nantinya akan dijual ke supplier dan dipasarkan ke toko-toko setempat bahkan hingga luar kota atau pulau. Ohh iya kalau kalian notice, rumah-rumah warga disini konsepnya panggung semua yaa, tapi tetap super nyaman. Suhu di Desa Tepal saat malam menuju pagi sangat dingin, sebelum tidur harus benar-benar pakai paket lengkap, dari mulai baju dan celana panjang, kaos kaki sampai jaket harus selalu dipakai biar gak kedinginan.


Ditengah kesibukan survei, kami menyempatkan waktu untuk untuk explore wisata setempat. Ada air terjun di Desa ini, masyarakat disini menyembutnya air terjun telkan. Aksesnya lumayan ngeri to be honest, tapi selama didampingin warga lokal insyaallah aman yaa. Banyak akamsi juga yang sedang mandi dan bermain disekitaran air terjun, ohhh it's very comforting to witness all this.
Setelah survei selesai dan data-data yang kami butuhkan terkumpul, akhirnya kami memutuskan pulang. Will miss Desa Tepal so much! Sebelum pulang, kami menyempatkan waktu untuk berpamitan ke tokoh setempat, salah satunya bapak ketua adat. Kami diberikan banyak wejangan dan diceritakan juga tentang adat dan kebudayaan setempat yang masih kental dan masih bertaham hingga saat ini. So lucky bisa bertemu bapak ketua adat sebelum pulang.
Keesokan harinya kami pulang, sepanjang perjalanan menyaksikan langsung pemandangan luar biasa indahnyaaa. Pegunungan, pepohonan, hutan dan rumah adat setempat. a very perfect feeling! Byee Desa Tepal, terima kasih atas sambutan hangatnya, semoga bisa berjumpa kembali suatu hari nanti.
Cheers,
Ineu Melia